Rabu, 21 Oktober 2015

Bu Yusi Indiati
Karya : Murniasih

Bait-bait kata tertulis terang-benderang
Untukmu wahai guruku yang kan selalu dikenang

Yang terhormat wahai pusaka bangsa
Untaian dedoa menyatukan kami dalam rasa
Sayangmu jadiakan pribadi yang tangguh murid-murid spansa                                                                            
Indah pengabdianmu berbalut cinta tanpa memandang kasta

Impian megah telah berhasil engkau torehkan kini
Nak, rajinlah belajar itu pesanmu                                                                       
Raihlah mega bintang hingga nafas tersekat
Ilmu tak akan pernah habis berkurang saat   diamalkan
Amanatmu wahai ibu guru terekam jelas dalam memori ingatan
Terus akan selalu kami jalankan
Itulah sebagai bukti perjuanganmu dan pengabdianmu yang lalu

Hong Kong, 7 Oktober 2015                                        



Wahai Sang pelita Bumi Pertiwi
Karya : Murniasih

Keoronkonanmu telah habis diladang amal tapi amanatmu masih berkibar
Sang pelita telah tetap hidup hingga zaman berahir
Menerangi setiap jalam kegelapan ada setetes cahaya yang masih bersinar

Memandang sendu penuh haru dalam lika-liku perjuangmu wahai sang guru
Keiklasanmu menhujani hati setiap murid-murid yang menuntut ilmu
Permadani menelurkan petmata kata demi kata mengikat  menjadi Satu

Anadi masih bisa kuukirkan sayang kepada sang guru penuntun ilmu
Seluas lautan mata memandang tak kan pernah jemu-jemu
Andai tak ada putra-purtimu yang melarangku untuk merawatmu sudikan aku membalas budi

Wahai Sang Peliata Ibu Pertiwi seuntai munajat untukmu di surga
Tetesan ilmumu kini turut menuntunku ke jalan setiap ujian melanda
Teringat pesanmu yang telah lalu, teuslah untuk menuntut ilmu

Hong Kong, 11 Oktobwer  2015 

Pilu Dalam Kenangan Oleh : Murniasih

Judul : Pilu Dalam Kenangan
Oleh : Murniasih


Sebait demi sebait meraung kata
Bila hidup tanpa peta tujuan
Terasa semu gelombang kehidupan
Jalan terjal onak berduri

Otak penat menjalani hari
Pejam mata menyapu penat
Puing-puing kehancuran menepi
Seribu duka telah tersemat

Ritme-ritme gubahan rasa
Apa lagi yang kan terbaca
Pilu sedu sedang
Bagai nyanyian beradu dendang

Bias-bias asmara meronah
Hilang tersapu jagat raya
Kemana hati merengkuh asa
Kalau tidak untuk kembali pada-Nya

Hong Kong ,22 Mei 2015